Menjemput Huruf-Huruf yang Tersesat: “Sigandi” sebagai Ikhtiar Literasi bagi Anak yang Terindikasi Disleksia di Buleleng
Bayangkan, terdapat sekitar 5 juta siswa sekolah dasar di Indonesia menghadapi tantangan besar ketika belajar membaca dan menulis karena disleksia (Elmansyah dkk., 2023). Jumlah yang tidak lagi sedikit. The British Dyslexia Association menyatakan bahwa disleksia merupakan gangguan belajar yang secara khusus menghambat perkembangan keterampilan membaca dan menulis (Juliansyah dkk., 2018). Bagi mereka, kumpulan huruf di buku pelajaran kerap tampak berubah-ubah bentuknya, sehingga setiap barisan terasa seperti teka-teki yang sulit untuk dipecahkan. Sejatinya mereka gemar bertanya, mencoba, bahkan memiliki imajinasi yang luas. Namun, semua hal tersebut sulit berkembang karena mereka belum mampu membaca dan menulis dengan lancar. Kemampuan membaca dan menulis pada anak menjadi poin penting dalam proses pembelajaran (Wardianto, 2023), utamanya pada tingkat sekolah dasar. Melalui membaca, anak-anak tidak hanya dapat mengenal huruf atau kata saja, tetapi juga mampu menyerap informasi dan kemampuan berpikir kritis. Sementara itu, menulis dapat memberi kesempatan pada anak untuk mengekspresikan pikiran, ide, dan juga perasaan mereka. Kemampuan ekspresif, seperti menulis dapat mendukung pembelajaran yang inklusif dan menjadikan bahasa Indonesia berdaulat bagi masyarakat.
Bahasa Indonesia sedari awal diikrarkan sebagai alat pemersatu bangsa (Fauziah dkk., 2022). Namun, makna bahasa yang berdaulat tidak hanya berhenti pada aspek simbolik persatuan. Lebih lanjut, bahasa Indonesia harus dapat bertransformasi menjadi bahasa ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya. Artinya, bukan hanya sekadar digunakan dalam komunikasi sehari-hari, melainkan juga sebagai medium utama untuk mengakses pengetahuan dan memperluas cakrawala pemikiran bangsa. Kedaulatan bahasa dapat dikatakan sah apabila setiap lapisan masyarakat memiliki akses yang setara, adil, dan inklusif, termasuk juga bagi anak disleksia. Sayangnya, inklusi bahasa bagi anak disleksia masih jauh dari kata ideal di ruang-ruang sekolah.
Disleksia kini masih menjadi masalah yang awam bagi keberlangsungan pelaksanaan dunia pendidikan. Akibat minimnya pengetahuan ini, praktik di ruang kelas sering kali berjalan tanpa kesadaran bahwa terdapat murid yang sebetulnya membutuhkan pendekatan berbeda. Banyak guru di sekolah dasar masih belum mendapatkan pelatihan khusus dalam menangani anak disleksia. Alhasil, anak-anak dengan kondisi ini justru dianggap lambat, malas, bahkan tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Pandangan keliru semacam ini menunjukkan masih adanya tantangan besar dalam memahami disleksia. Kurangnya pemahaman guru mengenai metode pengajaran yang tepat menjadi hambatan utama. Bayangkan apa yang akan terjadi jika sebagian besar tenaga pendidik belum menguasai pendekatan pedagogis khusus, seperti metode multisensoris dan strategi pembelajaran individual yang dibutuhkan oleh siswa disleksia. Permasalahan ini diperberat oleh terbatasnya bahan ajar yang ramah disleksia. Mayoritas sekolah masih menggunakan materi pembelajaran konvensional dengan ukuran fon kecil, teks padat, dan minim dukungan visual yang justru mempersulit proses belajar anak dengan gangguan membaca ini (Budiani dkk., 2023). Tantangan lain yang tidak kalah signifikan adalah stigma sosial bahwa anak dengan disleksia tidak cerdas, sebuah miskonsepsi yang mengakar dalam masyarakat dan berdampak pada rendahnya kepercayaan diri siswa serta keengganan orang tua untuk mencari bantuan profesional (Haifa dkk., 2020). Penelitian kualitatif pada anak usia dini menunjukkan bahwa disleksia bukanlah tanda rendahnya kecerdasan. Kondisi ini terjadi karena gangguan pada bagian otak yang memproses bahasa. Dengan penanganan yang tepat, kemampuan kognitif dan kreativitas anak justru bisa berkembang secara optimal (Oktamarina dkk., 2022).
Potret nyata perjuangan disleksia menuju pendidikan yang inklusif tergambar di salah satu kabupaten yang ada di Bali, yaitu Buleleng yang identik dengan jenama ”Kota Pendidikan”. Pasalnya, terdapat 842 siswa sekolah dasar yang tidak lancar atau bahkan tidak bisa membaca. Melansir Detik.com, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Buleleng, Drs. Dewa Made Sudiarta, M.Si, menilai fenomena ini muncul akibat kurangnya perhatian yang diberikan oleh orang tua, motivasi belajar, dan disleksia. Jika hal ini tidak ditangani dengan perlakuan khusus, akan berpengaruh pada jenjang berikutnya, bahkan hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dilansir dari laman Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Buleleng, pada jenjang SMP terdapat 363 siswa yang tidak lancar hingga tidak bisa membaca (Disdikpora Buleleng, 2025). Situasi ini nyata dialami oleh sejumlah anak di salah satu sekolah dasar (SD), yaitu SD Negeri 1 Banjar Tegal, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Mimik wajah mereka antusias saat bertemu dengan kami tim fasilitator, tetapi mulai takut ketika proses pembelajaran pertama dimulai.
“Hurufnya berlompat-lompat,” ucap seorang anak ketika ditanya oleh tim fasilitator kami. Bukan karena malas membaca, tetapi karena huruf-huruf di depannya menolak untuk dikenali. Mereka seakan terus bergerak, berputar, dan saling bertukar tempat. Kami tertegun sejenak dan mengupayakan untuk menciptakan suasana nyaman di awal proses pembelajaran yang disebut dengan stimulasi multisensoris. Hingga proses penyesuaian pada hari berikutnya, suasana dipenuhi oleh keceriaan dan ulasan senyuman di wajah mereka. Ini dia! Harapan yang selalu kami nantikan, yaitu keberanian dan kenyamanan mereka untuk mulai menikmati proses membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Keterampilan dasar inilah yang menjadi gerbang menuju penguasaan bahasa secara utuh. Melalui fondasi literasi yang erat dan kuat, kedudukan bahasa Indonesia yang berdaulat dapat menghadirkan pendidikan yang jauh lebih inklusif dan bermutu.
Keresahan ini melahirkan “Sigandi” atau Stimulasi Multisensoris bagi Anak yang Berindikasi Disleksia, yaitu sebuah gagasan pembelajaran baru yang dirancang untuk menghadirkan literasi yang lebih inklusif. Isinya berupa panduan yang bisa digunakan oleh guru, dilengkapi dengan kit kegiatan dan juga laman digital yang dapat diakses melalui https://bit.ly/LamanDigitalSigandi . Sigandi memiliki probabilitas yang besar untuk terus dikembangkan. Sigandi hadir sebagai teman belajar sekaligus jembatan yang menghubungkan jalan menuju dunia literasi inklusif. Melalui pendekatan metode multisensoris, Sigandi mengajak anak-anak belajar dengan seluruh indranya (melihat, mendengar, meraba, dan menyentuh). Kami berharap mereka tak lagi sekadar menatap huruf di atas kertas, tetapi akan menjadi pengalaman yang mengasyikkan dan penuh interaksi serta rasa percaya diri.
Impian dan harapan kami mulai terwujud ketika mengimplementasikan Sigandi di SD Negeri 1 Banjar Tegal, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali pada hari Senin, 11 Agustus 2025. Meskipun pada hari pertama tampak wajah yang menegangkan terukir pada mereka, hari-hari pendampingan berikutnya mereka mulai nyaman beradaptasi dengan kami. Hasil yang kami temukan pun begitu menggembirakan. Melalui serangkaian pendampingan, sebagian besar siswa menunjukkan peningkatan kemampuan membaca dan menulis yang signifikan. “Wah, ternyata menulis huruf tidak harus memakai pensil, ya?” ucap seorang anak ketika mereka diajak menulis di baki pasir yang merupakan salah satu media Sigandi. Tidak hanya itu, media Sigandi yang adaptif kami tawarkan juga berupa permainan Kataku. Permainan balok berwarna kontras ini dirancang dalam bentuk kata secara fisik dan visual. Cara bermainnya pun sederhana, dimulai dari kiri ke kanan ataupun sebaliknya dan juga dapat dari atas ke bawah atau sebaliknya. “Lagi, Kak! Terus-terus. Seru banget!”. Melihat antusiasme mereka membuat kami sangat terkesan melihatnya. Permainan ini tidak hanya menghadirkan keseruan, tetapi juga menjadi sarana edukatif yang efektif untuk merangsang kemampuan berbahasa, logika, serta motorik halus anak.
Sebagai bahan pendukung, Sigandi menghadirkan buku bacaan ramah disleksia yang berjudul Belajar Bersama Budi. Buku ini memiliki keunikan yang terletak pada gaya huruf (fon) khusus TrikaIndoDyslexic yang merupakan pengembangan dari para peneliti dari Pusat Unggulan Pendidikan Inklusif dan Perdamaian Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Bali (Ana, 2025). Gaya huruf dirancang dengan perbedaan visual yang jelas pada huruf-huruf yang sering tertukar serta penambahan elemen mnemonik visual (konsep mengaitkan huruf-huruf yang mirip dengan cerita atau bentuk unik (Ana, 2025)). Tujuannya sederhana, yaitu membantu anak-anak disleksia lebih mudah mengenali dan membedakan huruf sehingga proses membaca menjadi lebih lancar. “Ini kotak apa?” tanya salah satu anak saat melihat kode respons cepat (Quick Response [QR] Code) dalam buku. Ini juga menjadi sebuah keunggulan dari buku tersebut karena dapat menghubungkan anak ke audio dan video secara langsung. Mereka dapat mendengar pelafalan kata dengan ritme perlahan sambil melihat teks dan gambar yang turut menyertainya. Melalui ini, sensoris auditori anak pun turut terstimulasi, pemahaman bunyi meningkat, dan kemampuan memori kerja lebih tajam dan terasah. Kami melihat senyum, semangat, dan rasa percaya diri mulai tumbuh dalam diri mereka. Mereka membutuhkan pendekatan berbeda, bukan diberi label “tidak mampu”. Bagi kebanyakan orang, simbol bahasa sudah cukup untuk mempelajari sesuatu. Namun, bagi anak-anak disleksia, pemahaman akan lebih mudah jika simbol bahasa tersebut didukung dengan gambar maupun bentuk nyata. Media terakhir yang kami tawarkan, yaitu permainan pengayaan Kartu Pintar. Bagi anak disleksia, membaca menjadi tantangan besar. Huruf-huruf menjadi sering terlihat mirip, kata-kata terasa membingungkan, dan susunan kalimat kadang sulit dipahami. Untuk membantu mereka, hadirlah sebuah inovasi yang merupakan salah satu media pembelajaran dari Sigandi yang diberi nama Kartu Pintar, yaitu media literasi kreatif yang dirancang khusus agar anak disleksia dengan mudah mengenali kata, huruf, dan bunyi.
“Ini huruf d, ya, Kak?” tanya seorang anak kepada kami. Kami terdiam sejenak. Pasalnya, itu adalah huruf b. Dari sinilah hadir inovasi Kartu Pintar yang keunikannya terletak pada cara belajar yang tidak biasa. Kumpulan teks di kartu ini justru sengaja dibuat salah, misalnya huruf dicerminkan, posisi huruf ditukar, atau susunan kata diacak. Contohnya “qohou qohou welawbai” yang memiliki arti sebenarnya adalah “pohon-pohon melambai”. Dengan hadirnya konsep ini, anak-anak diajak melatih kemampuan visual mereka untuk mendeteksi kesalahan dan memperbaikinya secara sadar. Biasanya, huruf-huruf yang tertukar itu diantaranya, seperti huruf b-d, p-q, u-n, dan m-w. Sebagai salah satu latihan, kami mengajak mereka bermain “centang kata yang benar”, seperti memilih “dunga” dan “bunga” atau “pura” dan “qura”. Aktivitas ini membuat mereka berpikir reflektif sekaligus melatih mereka memverifikasi bentuk huruf dan struktur kata dengan lebih teliti.
Metode pembelajaran dengan instrumen intervensi Sigandi menciptakan ruang ekspresi yang lebih dekat dengan anak-anak disleksia. Melalui pendekatan belajar multisensoris, Sigandi membantu anak-anak untuk lebih mudah mengenal dan memahami bahasa Indonesia. Dengan berbagai media pembelajaran ramah disleksia seperti buku Belajar Bersama Budi, Permainan Kataku, Baki Pasir, dan Kartu Pintar, proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, interaktif, dan inklusif. “Ini media yang sangat menarik, sesuai dengan kebutuhan siswa dan membuat siswa nyaman untuk belajar,” ucap Kepala Sekolah Dasar Negeri 1 Banjar Tegal. Mendapat respons positif dari pengajar ini menjadi angin segar sebagai hasil yang mengesankan bagi kami tim fasilitator bahwa metode pembelajaran seperti ini menjadi jawaban yang solutif dan efektif untuk memajukan pendidikan yang bermutu nan hebat di Indonesia yang lebih inklusif.
Ada senyum yang tidak bisa dilupakan. Senyum itu muncul ketika seorang anak, yang awalnya takut memulai membaca bahkan membuka buku, akhirnya berseru pelan, “Oh, jadi ini huruf b, ya, Kak?”. Di balik senyum kecil, ada perjalanan panjang yang kami tempuh melalui krida kebahasaan Sigandi (Stimulasi Multisensoris bagi Anak yang Berindikasi Disleksia). Kami memulai langkah dengan keyakinan sederhana, yaitu “Setiap anak berhak mengenal huruf-hurufnya, berhak membaca dunianya sendiri, dan berhak memahami bacaan Indonesia tanpa hambatan”. Melalui metode multisensoris, kami mengajak anak-anak belajar dengan mata, telinga, tangan, dan hati. Sejatinya, bahasa Indonesia hadir sebagai bahasa yang memerdekakan, bukan membatasi. Pendidikan menjadi ruang yang inklusif bagi semua, tanpa ada yang tertinggal. Kami percaya bahwa setiap huruf yang berhasil dikenali merupakan satu pintu baru yang membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah.
Kami terus mengupayakan agar metode pembelajaran dengan instrumen intervensi Sigandi dapat menjadi peluang berkelanjutan untuk memberdayakan anak-anak disleksia di Bali, bahkan seluruh Indonesia. Sebab sejatinya, setiap huruf yang tersesat hanya menunggu untuk dijemput. Di situlah Sigandi hadir sebagai tangan kecil yang dengan sabar menuntun anak-anak disleksia menemukan jalan pulang mereka menuju dunia literasi.
DAFTAR PUSTAKA
Ana, I. K. T. A. (2025). TrikaIndoDyslexic: Font Khusus bagi Anak Disleksia Visual.
Universitas Pendidikan Ganesha.
https://cdn.undiksha.ac.id/wp-content/uploads/sites/13/2025/07/01145456/Buku-Pand
uan-lengkap-TrikaIndoDyslexic.pdf
Budiani, L., & Putrayasa, I. B. (2023). Kesulitan Membaca Kata Anak Disleksia Usia 7-12
Tahun di Sekolah Dasar. Journal of Education Action Research, 7(3), 376–381.
https://doi.org/10.23887/jear.v7i3.66560
Disdikpora Buleleng. (2025). PLT. Kadisdikpora Respon Cepat Terkait Ratusan Siswa Teridentifikasi Belum Bisa Baca | Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga. Diakses pada 23 Agustus 2025, dari
https://disdikpora.bulelengkab.go.id/informasi/detail/berita/22_plt-kadisdikpora-respo
n-cepat-terkait-ratusan-siswa-teridentifikasi-belum-bisa-baca
Elmansyah, T., Riki Maulana, & Nini, N. (2023). Deskripsi Gangguan Disleksia Pada Siswa
Sekolah Dasar Kecamatan Segedong. Jurnal Mahasiswa BK An-Nur, 9(1), 260–260.
https://doi.org/10.31602/jmbkan.v9i1.10187
Fauziah, R., Hardini, T. I., Sunendar, D., Yulianeta, Y., Kurniawan, K., & Halimah, H. (2022). Bahasa Sebagai Pemersatu Bangsa: Eksistensi Literasi Digital dalam Penangkal Hoaks. Jurnal Penelitian Pendidikan, 22(1), 2022.
https://doi.org/10.17509/jpp.v22i1.45505
Haifa, N., Mulyadiprana, A., & Respati, R. (2020). Pengenalan Ciri Anak Pengidap
Disleksia. Pedadidaktika: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 7(2),
21–32. https://doi.org/10.17509/pedadidaktika.v7i2.25035
Juliansyah, A. (2018). Komunikasi Instruksional Pada Anak Disleksia di Sekolah Dasar.
Jurnal Dimensi Pendidikan Dan Pembelajaran, 6(3), 119–131.
https://doi.org/10.24269/dpp.v6i3.1375
Kusuma, M. W. (2025). Setelah SMP, Kini Giliran 842 Siswa SD di Buleleng Tidak Bisa
Calistung. Diakses pada 23 Agustus 2025, dari
https://www.detik.com/bali/berita/d-7900934/setelah-smp-kini-giliran-842-siswa-sd-i-buleleng-tidak-bisa-calistung
Oktamarina, L., Rosalina, E., Lucia Septiana Utami, Syah Fitri Kurnia Duati, Dzakiyyah, C., Riska Puspa Sari, & Monika Sales Julita. (2022). Gangguan Gejala Disleksia Pada
Anak Usia Dini. Bharasumba : Jurnal Multidisipliner, 1(02), 104–118.
https://doi.org/10.62668/bharasumba.v1i02.189
Wardianto, B. S. (2023). Mewujudkan Merdeka Belajar dengan Pembelajaran Menulis
Cerpen melalui Pendekatan Proses. Diakses pada 23 Agustus 2025, dari
https://badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/artikel-detail/3956/mewujudkan-merdeka
-belajar--dengan-pembelajaran-menulis-cerpen--melalui-pendekatan-proses